KOMPOS JERAMI

•Desember 26, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dari Tanah Kembali ke Tanah

di kutip dari :

http://isroi.wordpress.com/2008/02/25/kompos-jerami-mudah-murah-cepat/

Padi atau tanaman menyerap unsur hara dari dalam tanah. Dengan bantuan energi dari sinar matahari, hara dari dalam tanah ditambah dengan CO2 dari udara ini diubah menjadi senyawa komplek untuk membentuk batang, daun, dan bulir-bulir padi/beras. Padi/beras akan dipanen dan dibawa ke tempat lain, sedangkan jerami sisa-sisa panen umumnya dibakar.

Proses ini berlangsung lama. Unsur hara dan bahan organik tanah semakin lama akan semakin habis. Selama ini unsur hara lebih banyak dipenuhi dengan menambahkan pupuk-pupuk kimia anorganik. Bahan-bahan organik yang ada di dalam tanah tidak mendapat perhatian dan kandungannya di dalam tanah semakin menipis.

kompos-gbr-1

Jerami yang dihasilkan dari sisa-sisa panen sebaiknya jangan dibakar, tetapi diolah menjadi kompos dan dikembalikan lagi ke tanah. Kompos jerami ini secara bertahap dapat menambah kandungan bahan organik tanah, dan lambat laun akan mengembalikan kesuburan tanah.

kompos-gbr-2

Kompos selain dibuat dari jerami dapat juga dibuat dari seresah atau sisa-sisa tanaman lain. Rumput-rumputan, sisa-sisa daun dan batang pisang, atan daun-daun tanaman dapat juga dibuat kompos. Pada prinsipnya semua limbah organik dapat dijadikan kompos.

Batang kayu, bamboo, ranting-ranting pohon, atau tulang juga termasuk bahan organik tetapi sebaiknya tidak ikut dikomposkan dengan jerami. Limbah-limbah ini termasuk limbah organik keras. Meskinpun dapat juga dibuat kompos, namun bahan-bahan ini memerlukan waktu yang lama untuk terdekomposisi.

Waktu Pengomposan

Waktu pengomposan sebaiknya segera setelah panen, yaitu waktu pada saat penyiapan bibit padi hingga sebelum penanaman bibit. Pada saat penyiapan bibit, kompos jerami juga disiapkan. Setelah kompos matang dalam waktu kira-kira satu bulan, kompos bisa segera disebarkan di petak sawah bersamaan dengan pengolahan tanah.

Keunggulan Cara Ini

Mudah. Cara pembuatannya sangat mudah sekali. Semua bahan bisa diperoleh di tempat. Hanya PROMI yang perlu dipesan dulu. Cara ini juga tanpa pencacahan, jadi tidak perlu mesin pencacah atau parang.

Murah. Biaya pembuatannya sangat murah. Bahan-bahan dan alat pendukung lainnya pun bisa menggunakan bahan lain yang lebih murah, jika ada.

Manfaat. Kompos ini tiak diragukan lagi memiliki banyak manfaat. Insya Allah.

Lokasi Pengomposan

Lokasi pengomposan dilakukan di petak sawah yang akan diaplikasi atau dipetak dimana jerami tersebut dipanen. Lokasi sebaiknya dipilih dekat dengan sumber air, karena pembuatan kompos membutuhkan banyak air. Lokasi juga dipikirkan untuk kemudahan saat aplikasi. Jika petak sawah cukup luas, sebaiknya dibuat di beberapa tempat yang terpisah.

Peralatan yang Dibutuhkan

Peralatan yang dibutukan antara lain:
1. Sabit/parang
2. Cetakan yang dibuat dari bambo. Cetakan ini dibuat seperti pagar yang terdiri dari 4 bagian. Dua bagian berukuran 2 x 1 m dan dua bagian yang lain berukuran 1 x 1 m.
3.
Ember/bak untuk tempat air.
4. Air yang cukup untuk membasahi jerami.
5. Aktivator pengomposan (Acticomp atau Promi).
6. Ember untuk menyiramkan aktivator.
7. Tali.
8. Plastik penutup. Plastik ini bisa dibuat dari plastik mulsa berwarna hitam (ukuran lebar 1 m) yang dibelah sehingga lebernya menjadi 2 m.

Tahapan Pembuatan Kompos Jerami

1. Siapkan bak dan air. Masukkan air ke dalam bak. Kemudian larutkan aktivator sesuai dosis yang diperlukan ke dalam bak air. Aduk hingga aktivator tercampur merata.

kompos-gbr-3

2. Siapkan cetakan dari bambo. Pasang cetakan tersebut. Sesuaikan ukuran cetakan dengan jerami dan seresah yang tersedia. Apabila jerami cukup banyak cetakan dapat berukuran 2 x 1 x 1 m. Namun bila jerami sedikit cetakan bisa dibuat lebih kecil dari ukuran tersebut.

kompos-gbr-4

Keterangan Gambar :

Gambar 6 : Siapkan cetakan kompos yang dibuat dari bambu

Gambar 7 : Masukan jerami dan bahan-bahan lain, lapis demi lapis kedalam cetakan kompos

Gambar 8 : Setiap lapis tumpukan, siram dengan aktivator secukupnya

3. Masukkan satu lapis jermai ke dalam cetakan. Jika tersedia dapat dimasukkan pula kotoran ternak. Jerami atau seresah yang berukuran besar dipotong-potong terlebih dahulu dengan parang.

4. Siramkan aktivator yang telah disiapkan merata dipermukaan jerami.

5. Injak-injak agar jerami padat.

kompos-gbr-5

6. Tambahkan lagi satu lapis jerami/serasah.
7. Siramkan kembali aktivator ke tumpukan jerami tersebut dan jangan lupa injak-injak agar tumpukan menjadi padat.

8. Ulangi langkah-langkah diatas hingga cetakan penuh atau seluruh jerami/seresah telah dimasukkan ke dalam cetakan.
9. Setelah cetakan penuh, buka tali pengikatnya dan lepaskan cetakannya.

kompos-gbr-6

10. Tutup tumpukan jerami tersebut dengan plastic yang telah disiapkan.

11. Ikat plastic dengan tali plastic agar tidak mudah lepas.
12. Kalau perlu bagian atas jerami diberi batu atau pemberat lain agar plastic tidak tebuka karena angin.
13. Lakukan pengamatan suhu, penyusutan volume, dan perubahan warna tumpukan jerami.
14. Inkubasi/fermentasi tumpukan jerami tersebut hingga kurang lebih satu bulan.

kompos-gbr-7

Pengamatan Selama Fermentasi

Selama masa fermentasi akan terjadi proses pelapukan dan penguraian jerami menjadi kompos. Selama waktu fermentasi ini akan terjadi perubahan fisik dan kimiawi jerami. Proses pelapukan ini dapat diamati secara visual antara lain dengan peningkatan suhu, penurunan volume tumpukan jerami, dan perubahan warna.

Suhu tumpukan jerami akan meningkat dengan cepat sehari/dua hari setelah inkubasi. Suhu akan terus meningkat selama beberapa minggu dan suhunya dapat mencapai 65-70 oC. Pada saat suhu meningkat, mikroba akan dengan giat melakukan penguraian atau dekomposisi jerami. Akibat penguraian jerami, volume tumpukan jerami akan menyusut. Penyusutan ini dapat mencapai 50% dari volume semula. Sejalan dengan itu wana jerami juga akan berubah menjadi coklat kehitam-hitaman.

kompos-gbr-8

Mengatasi Masalah yang Terjadi Selama Fermentasi

Jika setelah dua atau tiga hari tidak terjadi peningkatan suhu, atau tidak terjadi penyusutan volume selama proses fermentasi kemungkinan proses penguraian mengalami hambatan. Proses penguraian berjalan lambat atau bahkan tidak berlangsung sama sekali. Jika hal ini terjadi maka diperlukan langkah-langkah untuk mengatasi permasalahan ini.

Buka plastic penutup. bongkar dan amati tumpukan jerami tersebut. Apakah tumpukan tersebut kering atau ada bagian-bagian yang kering? Apakah tumpukan jerami tersebut terlalu basah? Apakah muncul bau yang kurang sedap? Apakah tumpukan jerami tersebut dingin atau panas?

Apabila tumpukan jerami kering, tambahkan air secukupnya. Kalo perlu lakukan pembalikan. Apabila jerami terlalu basah dan muncul bau tidak sedap, lakukan pembalikan dan jika perlu tambahkan bilah-bilah bambo yang diberi lubang untuk menambah aerasi.

kompos-gbr-9

kompos-gbr-10

Panen dan Aplikasi Kompos Jerami

kompos-gbr-111

Kompos yang telah cukup matang ditandai dengan adanya perubahan fisik jerami. Perubahan itu antara lain:

  • Jerami berwarna coklat kehitam-hitaman,
  • lunak dan mudah dihancurkan,
  • suhu tumpukan sudah mendekati suhu awal pengomposan,
  • tidak berbau menyengat, dan
  • volume menyusut hingga setengahnya.

Kompos jerami yang sudah memiliki ciri-ciri demikian berarti sudah cukup matang dan siap diaplikasikan ke sawah. Kompos jerami diaplikasikan di tempat di mana jerami tersebut diambil.

Gambar 17.

Gambar 17.

Padi yang dipupuk dengan kompos jerami tumbuh lebih subur

selengkapnya kunjungi :

http://isroi.wordpress.com/2008/02/25/kompos-jerami-mudah-murah-cepat/

Cara Membuat Kompos

•Agustus 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar


Berikut adalah langkah sederhana membuat kompos yang sangat tidak memerlukan daya yang besar. Sungguh!

1. Siapkan Reaktor Kompos (Komposter)

Reaktor ini adalah wadah yang terabut dari PVC, drum berukuran kira-kira 1 m-kubik. Walaupun reaktor kompos terbuat dari drum PVC (seperti yang terlihat pada Gambar di bawah), sebenarnya reaktor ini bisa dibuat dari apa saja. hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah, reaktor ini harus memiliki sistem ventilasi yang bagus. Reaksi pengkomposan adalah memang jenis reaksi yang memerlukan udara. Jika reaktor ini tidak memiliki sistem ventilasi yang baik, proses pembusukan yang terjadi juga akan menghasilkan bau busuk akibat dari pembentukan amoniak dan H2S.

  1. Persiapan Bahan Organik

Siapkan bahan (atau sampah) organik yang akan dikomposkan. Sampah organik yang disiapkan bisa berasal apa saja, misalnya dari sisa sayuran, nasi, atau potongan-potongan tanaman dari kebun. Agar kompos tidak berbau, hindari memasukkan daging, tulang dan minyak. Sebelum dimasukkan ke dalam reaktor kompos, bahan-bahan tadi sebaiknya dipotong kecil-kecil agar proses dekomposisinya menjadi lebih cepat dan lebih sempurna.Proses pembusukan atau dekomposisi memerlukan bakteri pengurai. Jadi, alangkah baiknya jika bahan-bahan tadi dicampur terlebih dahulu dengan sumber bakteri pengurai sebelum dimasukkan ke dalam reaktor kompos. Sumber bakteri pengurai yang paling mudah didapat adalah pupuk kandang (kotoran ternak). Bakteri pengurai yang dapat digunakan untuk membantu proses pengomposan juga dijual di toko-toko penjual pupuk. Salah satunya adalah EM4 (Effective Microorganism 4) yang bisa beli di Cihideung seharga Rp. 15000,- sebotol berukuran 1 liter.

3. Siram dan Aduk

Agar proses pengomposan berjalan dengan sempurna, media harus mengandung kira-kira 50% air. Jadi jangan lupa untuk selalu menyiram media kompos ini setiap hari dengan air secukupnya. Bila perlu, bolak-balik media kompos setiap hari agar proses aerasi berjalan sempurna. Selama proses pengomposan, sering kali lalat menjadi masalah yang menjengkelkan. Oleh sebab itu, diusahakan agar setiap lubang di reaktor kompos ditutup dengan kawat kasa. Bila bau tak sedap keluar, tambahkan air dan EM4, dan bau segera menghilang. Jika proses ini berjalan dengan baik, setelah 5 hari volume sampah yang dimasukkan akan menyusut kira-kira menjadi hanya 25% dari volume awalnya. Jadi untuk skala rumah tangga, reaktor kompos berukuran 1 m-kubik sudah lebih dari cukup.

4. Panen
Kompos siap dipanen setelah diproses kira-kira 2-3 minggu, bergantung pada tahap pemrosesnya.
Pada reaktor kompos ini, sengaja dibuat sebuah sistem sederhana sehingga proses pemanenan kompos dilakukan dari dasar reaktor. Kompos yang diperoleh adalah lumpur hitam yang mengandung air kira-kira 50%. Sehingga, untuk mendapatkan kompos kering, lumpur tadi harus dijemur. Biasanya, lumpur yang diperoleh langsung dipakai sebagai media tanaman di kebun. Jadi tidak perlu dijemur dahulu.

Mudah, kan? Sederhana dan jauh lebih sehat.

Antena Kaleng WiFi

•Agustus 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kaleng, yang terbayang oleh kita adalah benda sangat biasa yang menjadi tempat buat susu bubuk atau makanan lainnya. WiFi, yang ini adalah teknologi tinggi yang sepertinya mahal. Apa kaitan keduanya? Sepertinya tidak ada, tetapi ternyata

kaleng bekas bisa menjadi antena buat jaringan WiFi! Ingin tahu cara membuatnya? Ikuti artikel berikut ini..

Pertama-tama kita akan daftar dulu bahan-bahan yang dibutuhkan serta alat-alat yang diperlukan. Sebelumnya keahlian yang dibutuhkan untuk membuat antena ini cukup sederhana, yaitu tahu apa itu WiFi, cara memanfaatkannya dan tentu saja tahu serba sedikit tentang komputer. Dibutuhkan juga keberanian untuk melakukan sesuatu yang baru (bagi yang belum pernah) yaitu menyolder.

Bahan

  • Kaleng, tentu saja. Diameter 8,3 cm dan tinggi 21 cm (idealnya)
  • N-type female connector
  • Kabel tembaga berdiameter 2 mm dengan panjang 4 cm

Alat

  • Pembuka kaleng
  • Penggaris
  • Alat untuk menyolder dan timah solder
  • Bor
  • Tang
  • Kunci pas
  • Palu

Cara Membuat

  1. Buang salah satu sisi atas/bawah dari kaleng. Bila kaleng yang tutupnya bisa dibuka, hal ini tidak diperlukan lagi.

2. Dari sisi yang masih tertutup, ukur sepanjang 6,2 cm dan beri tanda.

    3. Dengan menggunakan bor, lubangi tanda tadi mulai dari kecil hingga lubangnya pas buat N-type

    connector. Bersihkan sekitar lubang dari cat yang menempel agar didapat kontak elektrik yang baik.

      4. Ambil kabel tembaga, haluskan salah satu ujungnya dan beri sedikit timah solder untuk

      memudahkan penyolderan selanjutnya.

        5. Dengan alat solder, solder kabel tadi pada tengah-tengah N-type connector. Usahakan kabel

        tembaga dapat tegak lurus diatas pin dari N-type connector.

          6. Ukur kabel tambaga tersebut dari dudukan kabel dan pin setinggi 3,05 cm. Lalu potong sisa

          kabelnya.

          7. Pasang N-type connector tersebut pada kaleng dengan kabel menghadap ke dalam. Dan… viola,

          jadilah antena WiFi yang murah meriah dan fungsional.

              Referensi

              • Radio Laboratory Handbook, of the ICTP “School On Digital Radio Communications for Research and Training in Developing Countries”, Volume 1: Cables and Antennas, February 2004, by Prof. Dr. Sandro M. Radicella and Prof. Dr. Ryszard Struzak. site: http://wireless.ictp.trieste.it

              Antena ini tidak langsung konek ke komputer kita. Dia konek ke wifi device yang kita punya. Biasanya wifi device mempunyai colokan untuk antena, nah lewat colokan ini antena kaleng kita terkoneksi.

              kalau access point-nya kelihatan dan lingkungan sekitar relatif bersih dari sinyal 2,4 GHz jangkauan bisa sampai 2 km-an. Pada prinsipnya, semakin jauh jarak semakin turun kecepatan-nya ;-)Untuk daerah jakarta kali 200 meter-an sudah bagus.

              Tungku Hemat Energi

              •Juli 31, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

              Sebuah alat memasak berbentuk tungku yang sengaja dirancang untuk lebih menghemat pasokan bahan bakar kayu dan lebih mengoptimalkan panas, sehingga memasak bisa lebih cepat dan tidak boros kayu.

              Cara Membuat Tungku Sederhana

              Adonan untuk membuat Tungku Hemat Energi adalah terdiri dari Tanah Liat : Pasir : Sekam dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Fungsi dari sekam adalah sebagai perekat dan penguat, ada juga yang menambahkannya dengan abu untuk mencegah retakan tungku jika kena panas api.

              Media cetak juga cukup menggunakan alat sederhana, sebilah papan untuk menahan dinding-dindingnya tungku dan cetakan lobang cukup menggunakan batang pisang, diletakkan horisontal dan vertikal, ditimbun pelan-pelan sehingga membentuk sosok Tungku. Dan jangan lupa sebelum tungku dicetakan benar-benar sudah kering, dibuatkan beberapa lubang kecil udara di samping dan lubang pembuangan.